DARK OF ERA II

 "Halah bisanya koar-koar doang, turun dong kejalan." Kata salah seorang.

Mereka lupa diera perkembangan teknologi yang begitu massif, kita dapat menggunakan berbagai macam media untuk bersuara, tak luput social media. 

Kita dengan mudah dapat mengakses berbagai macam pengetahuan, sehingga menjadikan kita lebih kritis dalam memilah. Mereka yang datang dan bersuara lantang turun kejalan untuk memperjuangkan hak dan harkat martabat kita sebagai bangsa yang besar, sebagai bangsa yang berdemokrasi, adalah perwakilan dari sebagian kita yang hanya bisa bersuara melalui media. 

Menyampaikan keluh kesah kita terhadap pemerintah, mereka layak mendapat hormat, sedang kita yang bergerilya di social media pantas mendapat respect. 

Bukankah kita "rakyat" adalah alarm bagi penguasa, alarm yang akan mengingatkan mereka bahwasanya kebijakan juga keputusan yang mereka buat telah jauh keluar dari jalur yang sebagaimana mestinya. 

Kita juga berhak mengingatkan mereka, bahwa kebijakan juga keputusan yang mereka buat dapat berdampak besar pada tatanan kehidupan kita. Oleh sebab itu kita berhak untuk menuntut mereka "pemerintah" agar kembali kejalan yang seharusnya. 

Bukan kah Demos adalah rakyat, dan Kratos adalah kekuasaan (pemerintah), oleh sebab itu kita menganut sistem Demokrasi. Dimana kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat, dari rakyat untuk rakyat.

Sedang pemerintah hanyalah penyelenggara dalam bernegara, lalu mengapa pemerintah masih bersikap angkuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIRI

DEWASA

Aku, Kamu dan Semesta