Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

Meaning of Name

 Nama Bahasa Indonesia : Aksa : Jauh, Mata Atma : Jiwa Anindita : Sempurna Anindya : Cantik Jelita Arunika : Waktu matahari terbit Dahayu : Cantik, Molek, Elok Dama : Cinta Kasih Candala : rendah diri Indurasmi : Sinar rembulan Kalis : Bersih, Murni, Suci Kirana : Sinar Cantik & Molek Nadir : Jarang didapat, Luar biasa Nirmala : Tanpa cacat, Suci Widya : Pengetahuan Niskala : tidak berwujud, mujarad Rahara : manis Baswara : bercahaya Bestari : berpendidikan Derana : tabah Jatmika : sopan Lazuardi : permata yang indah Nayanika : mata yang indah Puspa : bunga Renjana : hati yang kuat Sandyakala : cahaya merah saat senja Mufasa : terjaga, terpelihara Bahasa Arab : M. Askari - pejuang Aqil - bijaksana Aqmal - sangat pandai Barz – cerdas Faatih – penakluk Fadil – yang dermawan pada yang lain Fahreezan – yang bijaksana Kaamil – lengkap, sempurna Rais – pemimpin Wafaa – kesetiaan Zayn – indah, rahmat  F. Aadina – lembut Aaila – cantik Adira - Kuat, Bersemangat Adifa - pintar, ber...

DARK OF ERA II

 "Halah bisanya koar-koar doang, turun dong kejalan." Kata salah seorang. Mereka lupa diera perkembangan teknologi yang begitu massif, kita dapat menggunakan berbagai macam media untuk bersuara, tak luput social media.  Kita dengan mudah dapat mengakses berbagai macam pengetahuan, sehingga menjadikan kita lebih kritis dalam memilah. Mereka yang datang dan bersuara lantang turun kejalan untuk memperjuangkan hak dan harkat martabat kita sebagai bangsa yang besar, sebagai bangsa yang berdemokrasi, adalah perwakilan dari sebagian kita yang hanya bisa bersuara melalui media.  Menyampaikan keluh kesah kita terhadap pemerintah, mereka layak mendapat hormat, sedang kita yang bergerilya di social media pantas mendapat respect.  Bukankah kita "rakyat" adalah alarm bagi penguasa, alarm yang akan mengingatkan mereka bahwasanya kebijakan juga keputusan yang mereka buat telah jauh keluar dari jalur yang sebagaimana mestinya.  Kita juga berhak mengingatkan mereka, bahwa kebija...

DARK OF ERA

 "Ngapain sih demo² bikin macet doang?" Kata salah seorang. Mereka coba bungkam kritik dengan sindiran, yg mereka sendiri lupa atau mungkin tutup mata bahwasanya setiap kehidupan kita dipenuhi dengan keputusan politik. Biaya pendidikan, kesehatan, pangan, pajak dan lain sebagainya, itu semua tak lepas dari sebuah hasil kebijakan politik.  Mereka juga lupa bahwa negara ini dibangun dengan berdialog, bukan malah anti-kritik. Itu semua terpampang jelas setiap kali para demonstran turun kejalan untuk menyuarakan keluh kesah terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang tak pernah melibatkan rakyat.  Sosok pemimpin yang diharapkan hadir untuk mendengar, justru malah lari bersembunyi seolah rakyat adalah dept collector yang siap datang untuk merebut tahtanya.  Bukan cuma pandai bersembunyi tapi juga pandai bersandiwara seolah-olah dia "pemerintah" merasa paling terzolimi. Hanya bisa mengumpat dari sudut tempat, tanpa hadir untuk menemui rakyat.  Keputu...